Penulis: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc
Al-Imam Muslim rahimahullahu berkata dalam Ash-Shahih:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ -وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ- قَالَا: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ وَهْبٍ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ اللَّيْثِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: بَيْنَ رَجُلٌ بَفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا مِنْ سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلَانٍ! فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءُ كُلُّهُ فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ يَحُولُ الْمَاءَ بِمسْحَاتِهِ فَقَال لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلَانٌ؛ لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحَابِ الَّذِي هَذَا مَاؤُهُ يَقُولُ: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلَانٍ لِاسْمِكَ فَمَا تَصْنَعُ فِيهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذْ قُلْتَ هَذَا فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا وَأَرُدُّ فِيهَا ثُلُثَهُ
Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb menceritakan kepadaku -dan ini lafzdz Abu Bakr-, keduanya berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepadaku: Abdul Aziz bin Abi Salamah menceritakan kepadaku, dari Wahb bin Kaisan, dari Ubaid bin Umair Al-Laitsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Ketika seorang berada di tengah hamparan padang, tiba-tiba terdengar olehnya suara dari awan: “Siramilah kebun si fulan!” Seketika itu bergeraklah awan minggir menghujani lahan yang berbatuan hitam. Hingga penuhlah salah satu sungai dari sungai-sungai yang ada. (Air pun mengalir) lalu dia ikuti aliran, hingga dijumpainya seorang lelaki tengah berdiri di kebunnya sibuk mengalirkan air dengan alat yang dipegangnya. Dia bertanya: “Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Lelaki ini menjawab: “Aku Fulan.” –persis dengan nama yang terdengar dari awan–, kemudian menimpali: “Wahai hamba Allah, apa gerangan yang menyebabkan dirimu bertanya perihal namaku?” Berkatalah ia: “Sungguh aku telah mendengar suara dari awan yang telah mencurahkan air (yang mengalir ke kebunmu) ini. Aku mendengar suara: ‘Siramilah kebun si fulan!’ –menyebut namamu– (Wahai fulan) apakah yang telah kau lakukan terhadap kebunmu?” Lelaki ini menjawab: “Jika demikian apa yang kau katakan, maka sesungguhnya aku selalu melihat hasil panen dari kebunku. Aku sedekahkan sepertiganya, sepertiga lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga lainnya aku gunakan untuk mengolah kebunku.”
Takhrij hadits
Al-Imam Muslim rahimahullahu meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya Kitab Az-Zuhd war Raqaiq no. 2984, dari dua gurunya; Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb. Keduanya meriwayatkan dari Yazid bin Harun, dari Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah1, dari Wahb bin Kaisan, dari ‘Ubaid bin ‘Umair Al-Laitsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafadz di atas, dan ini adalah lafadz Abu Bakr ibnu Abi Syaibah.
Melalui jalan Yazid bin Harun dari Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah inilah, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Al-Musnad (2/296). Demikian pula Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 3355.
Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asbahani dalam Akhbar Al-Ashbahan (2/192) melalui jalan ‘Amr bin Marzuq, dari Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah, dengan sanad yang sama, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Al-Imam Muslim rahimahullahu juga meriwayatkan dalam Ash-Shahih no. 2984 melalui guru ketiganya; Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi, dari Abu Dawud2, dari Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah, dengan sanad yang sama pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dengan lafadz:
وَأَجْعَلُ ثُلُثَهُ فِي الْمَسَاكِينِ وَالسَّائِلِيْنَ وَابْنِ السَّبِيْلِ
“Dan aku sediakan sepertiganya untuk orang-orang miskin, peminta-minta, dan ibnu sabil.”
Hadits ini shahih, semua perawinya terpercaya, dan tidak ada keraguan atas keshahihan hadits ini, menurut kesepakatan kaum muslimin atas keshahihan dua kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Allahu ta’ala a’lam.
Kebaikan dunia dan akhirat hanya dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
At-Tauhid, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya adalah sumber segala kebaikan. Sebaliknya, kesyirikan dan kemaksiatan kepada-Nya adalah sumber segala bencana dunia dan petaka di hari kemudian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Ayat di atas, demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita simak, adalah sekian dari dalil Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan buah dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketaatan kepada-Nya.
Lihatlah berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menakjubkan. Kisah seorang lelaki beriman yang mengeluarkan sedekah dari kebunnya. Dengan tauhid; beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan zakat yang dia keluarkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan berkah dari langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala suburkan tanahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tumbuh kembangkan kebunnya, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan siraman hujan untuknya. Subhanallah, sungguh sebuah kisah yang penuh ibrah. Tentu bagi mereka yang mau merenungkannya.
Maka, siapapun yang berharap keberkahan dalam harta serta mendambakan tambahan yang berlipat dari rezekinya baik di dunia yang fana ini atau di akhirat yang kekal dan abadi, sungguh yang harus dia lakukan adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan tunduk kepada syariat-Nya. Untuk itulah sesungguhnya manusia diciptakan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Sedekah tidak mengurangi harta
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu (631-676 H) berkata: “Hadits ini (menunjukkan) keutamaan bersedekah serta berbuat baik kepada orang-orang miskin dan ibnu sabil. Demikian pula, (menunjukkan) keutamaan seorang yang makan dari hasil jerih payahnya dan keutamaan berinfak untuk keluarga.”3
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga menunjukkan bahwasanya sedekah tidaklah mengurangi harta, apalagi memusnahkannya.
Saudaraku, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi dan merahmati kita. Pernahkah terbersit bahwasanya sedekah yang kita keluarkan akan mengurangi harta atau memusnahkannya? Mungkin bersitan itu pernah muncul dan bisikan itu pernah terngiang di relung hati. Demikian setan membisiki dada-dada manusia, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 268)
Setan senantiasa menghalangi manusia dari kebajikan, menghalangi mereka dari sedekah dan menakut-nakutinya dengan kemiskinan. Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan memberikan ampunan dan keutamaan yang besar. Di sinilah manusia diuji, apakah dia kokoh meyakini janji Allah Subhanahu wa Ta’ala atau lebih menuruti bujuk rayu setan.
Ketahuilah, sesungguhnya sedekah yang dikeluarkan tidak akan mengurangi harta apalagi menyebabkan musnahnya. Lelaki yang diceritakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sama sekali tidak merasakan kekurangan pada hartanya. Bahkan sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan pintu-pintu rezeki serta berkah dari langit dan bumi.
Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala demikian luas. Keutamaan-Nya tidak terhingga. Sedekah yang dikeluarkan hamba-Nya tidaklah mengurangi harta, demikianlah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana terucap dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta….” (Al-Hadits)4
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu (1308-1376 H) menerangkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah. Sedekah tidaklah mengurangi harta. Kalaulah kita anggap bahwa sedekah itu mengurangi harta dari satu sisi (yakni jumlahnya, pen.), namun tambahan bagi harta sungguh akan dilimpahkan dari sisi-sisi lain.
Dengan sedekah, harta akan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkahi. Dengan sedekah, harta akan diselamatkan dari kejelekan-kejelekan dan akan berkembang. Dengan sedekah, pintu-pintu rezeki dibukakan bagi orang yang bersedekah dan akan dibukakan sebab-sebab bertambahnya harta, yang (semuanya itu) tidak diberikan bagi orang yang tidak bersedekah.
(Jika demikian keutamaan sedekah), akankah kemudian bisa kita bandingkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan keluarnya sebagian kecil dari harta yang disedekahkan? (Sungguh) sedekah yang dikeluarkan pada tempatnya –karena Allah Subhanahu wa Ta’ala– tidak pernah memusnahkan harta, bahkan menguranginya pun tidak, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula kenyataan yang kita saksikan dan pengalaman yang terjadi (seluruhnya menunjukkan bahwa sedekah tidaklah mengurangi harta, pen.).5
Saudaraku rahimakumullah. Di antara keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hamba-Nya yang bersedekah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan malaikat untuk mendoakan kebaikan atas mereka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا؛ وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Tidaklah suatu hari di mana hamba-hamba Allah masuk di pagi hari, melainkan selalu turun dua malaikat. Salah satu dari keduanya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi mereka yang berinfak.’ Adapun malaikat kedua dia berdoa: ‘Ya Allah, berilah kebinasaan bagi mereka yang menahan sedekah.’6
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun ganti dan tambah harta mereka, sebagaimana Dia telah berjanji:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)
Sedekah yang dikeluarkan tidaklah hilang. Bahkan apa yang diinfakkan, itulah harta yang sesungguhnya. Adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
أَنَّهُمْ ذَبَحُوا شَاةً فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ: مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا. قَالَ: بَقِيَ كُلُّهَا إِلَّا كَتِفُهَا
(Suatu saat keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyembelih seekor kambing. (Setelah disedekahkan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Adakah yang tersisa darinya?” Aisyah berkata: “Tidak ada yang tersisa kecuali bahunya.” Rasul pun menimpali: “(Justru) semuanya masih utuh (tersimpan), kecuali bahu (yang belum disedekahkan).”7
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istrinya yang paling dicintai demikian tegas, bahwa apa yang disedekahkan tidaklah musnah. Bahkan itulah yang sesungguhnya kekal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 96)
Demikian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik istri dan sahabatnya sampai hakikat ini tertanam dalam dada. Sehingga kita tidak heran ketika mereka menginfakkan separuh hartanya, sebagian atau bahkan seluruh hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dilakukan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Mereka yakin bahwa apa yang disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah yang kekal. Mereka yakin pula Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti apa yang dikeluarkan dengan ganti yang berlipat dan lebih baik.
Adalah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu –beliau keluarkan seribu dinar (emas) – guna menyiapkan Jaisyul ‘Usrah saat perang Tabuk. Beliau siapkan 30.000 pasukan dengan harta beliau. Allahu Akbar! Tidak sedikitpun terbersit dalam benak beliau kemiskinan. Beliau pun meraih apa yang lebih baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seraya membolak-balikkan emas yang Utsman infakkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Tidaklah membahayakan bagi Utsman apapun yang dia lakukan sesudah hari ini.”8 (Karena sesungguhnya beliau telah diampuni, pen.)9
Allah Subhanahu wa Ta’ala musnahkan riba dan suburkan sedekah
Beberapa keutamaan sedekah dan pengaruhnya bagi harta yang telah kita sebut di atas mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276)
Riba dan sedekah adalah dua hal yang sangat berlawanan. Sedekah, yang kebanyakan manusia bakhil karena khawatir hartanya berkurang, justru itulah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kembangkan. Sebaliknya, apa yang manusia sangka menambah hartanya yaitu riba, justru Allah Subhanahu wa Ta’ala musnahkan bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala perangi pelakunya. Tetapi kebanyakan manusia telah terbalik penilaiannya. Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang sedekah mereka abaikan. Sebaliknya, ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang riba tidak lagi dihiraukan.
Manusia justru berbondong menempuh jalan pintas mengembangkan hartanya dengan riba. Hingga berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi di akhir zaman benar-benar terwujud. Beliau bersabda:
بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ يَظْهَرُ الرِّبَا
“Di saat mendekati kiamat akan tampak (meluas) riba.”10
Perkumpulan-perkumpulan sering disisipi kegiatan simpan-pinjam dengan mengembalikan uang jasa yang tak lain adalah riba. Deposito bank menjadi kebanggaan dan seolah menjadi jaminan masa depan. Pendek kata, banyak kaum muslimin terjatuh pada riba. Keadaan ini diperparah dengan banyaknya bank dan lembaga ribawi lainnya serta merebaknya bank-bank berlabel “syariah”, yang ternyata produk-produknya masih sangat kental dengan riba melalui rekayasa-rekayasa yang menipu kebanyakan muslimin.11
Para pemuja dunia menyangka bahwa bank dengan ribanya adalah sarana mengembangkan harta dan satu-satunya lembaga yang terpercaya untuk menginvestasikan harta. Bahkan mungkin di antara mereka ada yang mengatakan bahwasanya mustahil di zaman ini seseorang terlepas dari riba. Mustahil seseorang hidup tanpa riba. Benarkah demikian? Tidak! Justru riba adalah sumber kerusakan dan kehinaan. Bukan kebaikan yang diraup, justru kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kenistaanlah yang akan dituai.
Mereka sangka bahwa dengan riba harta akan berkembang, sebaliknya dengan bersedekah harta berkurang. Sungguh ini adalah buruk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan waswas setan. Tidakkah kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memusnahkan riba dan akan hilangkan barakahnya. Riba adalah sebab turunnya kejelekan-kejelekan pada harta dan tercabutnya barakah. Kalaulah seseorang menginfakkan harta yang dia peroleh dengan riba, sungguh pahala tidaklah akan dia raup, bahkan akan menjadi beban baginya di neraka. Adapun sedekah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan terus menyuburkannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan barakah pada harta yang dikeluarkan zakatnya. Pahala sedekah akan Allah Subhanahu wa Ta’ala pelihara (dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lipat gandakan, pen.) untuknya. (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 117)12
Krisis bangsa dituntaskan dengan takwa, bukan dengan riba
Menyoal masalah yang menimpa bangsa ini adalah hal yang sangat penting, terlebih keadaannya yang semakin terpuruk. Karut-marutnya perpolitikan, kemerosotan moral dan akhlak anak bangsa, kemiskinan dan krisis ekonomi yang terus mendera, benar-benar membuat banyak orang berpikir dan bertanya apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk mengentaskan bangsa ini dari segala problema yang membelitnya. Dari mana sesungguhnya perbaikan itu harus dimulai?
Dari pemikiran materialis, di mana kebahagiaan diukur dengan emas dan perak, kemudian menatap bahwasanya bank adalah lembaga keuangan yang kokoh, sehingga mampu menjamin ekonomi individu atau bangsa, mulailah hati kebanyakan manusia terbelenggu dengan bank dan menjadikannya sebagai salah satu ujung tombak perbaikan bangsa. Mereka lalu melupakan perkara yang terpenting dalam kehidupan –yaitu At-Tauhid– untuk menghadapi segala problematika kehidupan. Demikianlah jika qalbu telah terbalik.
Sesungguhnya jalan memperbaiki sebuah negeri atau individu hanya ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi siapa di antara manusia yang mau menjadikan Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai pedoman dan pelita di tengah gulita? Hanyalah orang-orang yang beriman dan hidup qalbunya yang mau kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang sedang kita bahas sesungguhnya adalah jawaban dari pertanyaan yang menggelayuti benak para pemikir dan pakar politik atau ekonomi. Bangsa ini akan terangkat dan akan memiliki kemuliaan dengan ketakwaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)
Maka perkara pertama yang harus diselesaikan adalah mengentaskan umat ini dari kerusakan akidah, menyeru mereka untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengajak semua manusia kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Mengikuti jejak as-salafush shalih.
Maka menjadi sebuah keharusan bagi seluruh manusia untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kesyirikan dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya. Dengan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kemuliaan dan kebahagiaan. Demikianlah Nabi Nuh ‘alaihissalam mewasiatkan umatnya untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjanjikan kemuliaan dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)
Memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meninggalkan riba
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman untuk bersegera meninggalkan riba, sebagaimana dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 278)
Orang yang beriman ketika mendengar seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini tentu lebih mengedepankan ridha-Nya daripada hawa nafsunya, lalu bersegera meninggalkan riba yang terlaknat.13 Ayat ini cukup bagi orang yang beriman untuk tidak berkubang dalam lumpur riba dan bergegas menghindarkan dirinya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pedih.
Adapun mereka yang terus berada dalam riba, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam perang dalam ayat selanjutnya:
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 279)
Manusia –menurut tabiatnya– akan ditimpa takut bila datang berita bahwa pasukan musuh datang menyerang. Tetapi sungguh mengherankan, tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan perang bagi pelaku riba, justru kebanyakan manusia menganggapnya sebagai angin lalu. Bahkan tidak jarang terucap dari lisan mereka keraguan akan rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berkata: “Kalau kita pilih-pilih pekerjaan, kita makan apa? Kalau kita tinggalkan bank, bagaimana nasib anak-anak kita? Kita kasih makan apa mereka?” Sungguh mengejutkan ucapan ini! Tidakkah mereka sadar bahwa rezeki bukan di tangan bank? Tidakkah mereka ingat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lah Dzat yang memberikan rezeki?
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfuzh).” (Hud: 6)
Namun, tatkala keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dicampakkan dan neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala dianggap sebagai berita yang tidak perlu dikhawatirkan, kaki pun terus melangkah untuk menempuh apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.
Dahulu, empat belas abad silam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya masa di mana manusia tidak lagi memedulikan harta yang dia peroleh, halal atau haram. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَال الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang kepada manusia zaman di mana seorang tidak lagi peduli akan harta yang dia ambil, apakah dari yang halal atau dari yang haram.”14
Kenyataan itu telah kita saksikan. Manusia tidak lagi peduli dengan riba. Tidak lagi menimbang harta yang di tangannya apakah itu halal atau haram. Hingga ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpa mereka yang bergelimang riba. Meskipun secara zhahir mereka memiliki sesuatu dari dunia, akan tetapi sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala hancurkan kehidupannya. Dada-dada mereka sempit, nafas-nafas mereka terengah. Allah Subhanahu wa Ta’ala palingkan dirinya dari akhirat, mereka pun tersibukkan dengan emas dan perak. Allah Subhanahu wa Ta’ala jatuhkan dunianya dan akhiratnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala musnahkan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala cabut ketentraman hatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala cabut berkah pada harta, anak-anak, dan umurnya.
Siapakah yang mampu menghadapi Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika Dia memerangi? Tidakkah kita takut dengan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 279)
Kehinaan itu bukan hanya di dunia, bahkan kesengsaraan akan terus menimpa mereka yang terus tenggelam dalam riba sesudah kematiannya.
Suatu pagi, seusai salat subuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perjalanan mimpi beliau bersama malaikat Jibril dan Mikail e sebagaimana diceritakan sahabat Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu. Dalam perjalanan itu Rasul saksikan berbagai azab yang menimpa ahli maksiat, di antaranya para pemakan riba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang apa yang menimpa mereka:
فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهْرٍ مِنْ دَمٍ فِيْهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسْطِ النَّهْرِ وَعَلَى شَطِّ النَّهْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهْرِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِالْحِجَارَةِ فِي فِيْهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيْهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ
“… Kita pun pergi hingga menjumpai sebuah sungai darah, di tengahnya seorang yang berdiri dan di pinggir sungai seorang yang di hadapannya batu. Mendekatlah lelaki yang berada di tengah sungai darah, di saat hampir keluar darinya, lelaki yang lain melemparkan batu ke mulutnya hingga dia kembali ke tengah sungai, demikian seterusnya setiap hendak keluar dilempar ke mulutnya batu hingga kembali (tersiksa di tengah sungai darah).”15
Seorang yang beriman selalu khawatir seandainya masih ada harta haram seperti riba yang masih tersisa saat kematian menjemputnya. Dia pun membayangkan apa yang akan dia katakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika ditanya tentang hartanya, dari mana didapat dan untuk apa digunakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ؛ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam dari sisi Rabbnya pada hari kiamat hingga ditanya lima perkara, tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa disirnakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan untuk apa dikeluarkan, dan tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan.”16
Jalan kebenaran telah dibentangkan di hadapan kita selebar-lebarnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala sejelas-jelasnya. Demikian pula jalan menuju jahannam telah diperingatkan. Qalbu yang hidup akan segera bangkit memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Qalbu yang bersih tentu tidak akan angkuh dan sombong di hadapan kebenaran yang telah dipancangkan di hadapannya.
Tinggal kita memilih untuk melangkahkan kaki. Akankah kita tinggalkan riba dan mengeluarkan sedekah, atau tetap memakan riba dan menahan sedekah?
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Washalallahu wa sallama ‘ala Nabiyyina Muhammadin.
1 Abdul ‘Aziz bin Abi Salamah, dinisbatkan kepada kakeknya. Beliau adalah Abu Abdillah Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah Al-Majisyun, termasuk kibar tabi’in (tabi’in besar/utama), meninggal tahun 164 H.
2 Beliau adalah Al-Imam Abu Dawud, Sulaiman bin Dawud bin Al-Jarud Ath-Thayalisi (204 H), penulis kitab Al-Musnad. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini dikeluarkan dalam Musnad-nya no. 2587.
Melalui jalan Abu Dawud, hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 2984) dari guru beliau Ahmad bin ‘Abdah –sebagaimana telah kita sebutkan–. Demikian pula Abu Nu’aim Al-Asbahani dalam Hilyatul Auliya (3/275-276) dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (4/133).
3 Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullahu (18/115).
4 HR. Muslim no. 2588 dan At-Tirmidzi no. 2029 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
5 Lihat Bahjah Qulub Al-Abrar karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu hal. 188, syarah hadits ke-34.
6 Al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
7 At-Tirmidzi dalam As-Sunan no. 2470.
8 At-Tirmidzi dalam As-Sunan no. 3701.
9 Demikian diterangkan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi.
10 Diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir sebagaimana dikatakan Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib (3/9). Al-Mundziri berkata: “Rawi-rawinya perawi shahih.”
11 Di antaranya mengemas riba dengan istilah-istilah syariat, seperti mudharabah, murabahah, dan semisalnya.
12 Dengan sedikit perubahan.
13 Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Muslim rahimahullahu dalam Ash-Shahih no. 1598.
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan (memakai) riba, memberi riba, penulisnya dan dua saksinya. Kata beliau: “Mereka ini sama.”
An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarh Shahih Muslim: “Tegas dalam hadits ini akan keharaman mencatat akad dua orang yang melakukan riba dan menjadi saksi (dalam akad tersebut). Dalam hadits ini pula (ada dalil) diharamkannya membantu perkara yang batil.”
14 HR. Al-Bukhari (4/313) dengan syarh Fathul Bari no. 2083 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
15 Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 1386.
16 HR. At-Tirmidzi no. 2416, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu.
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=861
