Bab Tentang Menyandarkan Turunnya Hujan kepada Bintang-Bintang

Bab Tentang Menyandarkan Turunnya Hujan kepada Bintang-Bintang

Kajian Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah

(disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah dalam acara LKIBA Ma’had As-Salafy Jember pada hari Ahad, 17 Muharram 1431 / 3 Januari 2009)

باب ما جاء في الاستسقاء بالأنواء

Bab Tentang Menyandarkan Turunnya Hujan

kepada Bintang-Bintang

Menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang terbagi menjadi dua keadaan:

1. Syirik akbar (syirik besar)

a. Syirik akbar dalam ibadah, yaitu dia meminta kepada bintang-bintang itu agar bintang-bintang itu menurunkan hujan. Seperti perkataan: “Wahai bintang, turunkan hujan!” ini merupakan syrik akbar dalam ibadah karena berdoa merupakan ibadah.

b. Syirik akbar dalam rububiyyah, yaitu dia meyakini bahwasanya bintang itulah yang menurunkan hujan. Terjadinya hujan karena adanya bintang-bintang itu, karena bintang-bintang itulah yang menurunkan hujan. Walaupun dia tidak berdoa: “Wahai bintang, turunkan hujan!”, tetapi punya keyakinan bahwa bintang itulah yang menurunkan hujan, maka ini termasuk syirik akbar dalam rububiyyah karena dia meyakini bahwa bintang-bintang itu sebagai Al-Khaliq yang menciptakan hujan.

2. Syirik asghar (syirik kecil)

Yaitu dia menjadikan bintang-bintang sebagai sebab turunnya hujan dengan tetap berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala lah yang menciptakan dan menurunkan hujan. Ini termasuk syirik asghar karena dia telah menjadikan suatu sebab yang bukan sebab syar’i maupun sebab kauni.

Maka berhati-hatilah berkenaan dengan keyakinan ini. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang menurunkan hujan, Allah subhanahu wata’ala yang menyembuhkan penyakit, dan Allah subhanahu wata’ala yang menghidupkan dan mematikan, jangan sampai kita menjadikan sesuatu sebagai sebab tertentu yang bukan sebab syar’i maupun kauni. Misalnya obat, baik tradisional maupun kimia, memang ada jenis-jenis obat tertentu yang bisa sebagai sebab kesembuhan. Maka itu tidak mengapa dijadikan sebab, seperti kita batuk, maka kita minum obat batuk, tetapi harus punya keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang menyembuhkan, bukan obat itu. Akan tetapi kalau kita bersandar dan meyakini bahwa obat itu yang menyembuhkan, maka ini bisa masuk ke dalam syrik akbar.

Berapa banyak orang sakit yang sudah menempuh sebab kesembuhan dengan meminum obat, akan tetapi tidak kunjung sembuh, ini menunjukkan bahwa obat itu tidak bisa menyembuhkan, hanya Allah sajalah yang bisa menyembuhkan. Kita sebagai seorang muslim harus tawakkal kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menempuh sebab yang diizinkan oleh syari’at. Tawakkal harus disertai dengan melakukan sebab. Tawakkal yang tidak disertai dengan melakukan sebab itu adalah tawakkal yang salah. Seperti seorang yang ingin mempunyai uang, akan tetapi tidak bekerja atau berusaha.

Namun selain melakukan sebab, kita harus tetap berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala sajalah yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak madharat.

Firman Allah ta’ala:

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ.

“Dan kalian menggantikan rezeki yang Allah berikan kepada kalian dengan kedustaan kepada Allah.” (Al-Waqi’ah: 82)

Maknanya adalah kalian menjadikan syukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas rezeki yang Allah berikan sebagai kedustaan, di mana kalian telah menyandarkan rezeki Allah berupa hujan kepada bintang-bintang, dan ini suatu kedustaan. Rezeki itu dari Allah yang harus disyukuri, akan tetapi di sana ada orang mensyukuri nikmat Allah berupa hujan dengan kedustaan yaitu dengan menyandarkan turunnya hujan itu kepada bintang-bintang.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala mencela orang-orang kafir yang mengingkari nikmat Allah, dan di antara nikmat Allah adalah hujan. Mereka menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang yang tidak bisa memberikan manfaat dan madharat.

Faidah yang bisa diambil dari ayat ini di antaranya :

1. Batilnya penyandaran turunnya hujan kepada bintang-bintang.

2. Penyandaran turunnya hujan kepada bintang-bintang adalah suatu kedustaan.

3. Wajibnya bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, dan wajib untuk menyandarkan turunnya hujan kepada Allah sebagai keutamaan dan kebaikan dari-Nya.

4. Hujan termasuk rezeki dari Allah subhanahu wata’ala.

5. Menyandarkan kenikmatan kepada selain Allah adalah termasuk mengkufuri nikmat tersebut.

6. Kebaikan dan kejelekan itu sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah.

http://www.assalafy.org/mahad/?p=421